Al-Qur'an Dan Theologi
Sejak permulaan
perkembangan sains dalam islam, Al-Qur’an merupakan objek pembahasan sains
dikalangan muslim, yang melahirkan konstruksi ilmu kalam. Kelahiran ilmu ini
berpangkal pada pemikiran (logika) deduktif dari teks Al-Qur’an yang berada
ditengah-tengah perbedaan tajam antara pemikiran yang meletakkan Al-Qur’an
sebagai makhluk dan pemikiran yang diletakkan pada logika bahwa Al-Qur’an bukan
makhluk. Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataanya theology lahir dari kenyataan
empiric
yakni peristiwa pembunuhan politik yang
membentuk situasi pada saat itu dikaitkan dengan teks Al-Qur’an. Proses
pembentukan theology dilakukan melalui komentar-komentar aktual atas teks atau
tafsir yang bercorak deduktif normatif
menurut aliran politik yang ada.
A.
Pengenalan Al-Qur’an Dan Theology
Al-Qur’an
adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukil
secara mutawatir kepada kita, yang isinya memuat petunjuk bagi kebahagiaan
kepada orang yang percaya kepada-Nya, berupa aqidah, akhlaq dan syari’at. Allah
memberi wahyu pada rasul-Nya supaya mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
cahaya dengan izin Allah. Allah berfirman dalam surat Asy-Syu’ara : 192
وَاِنَّهُ لَتَنْزِيْلٌ مِنْ رَبِّ
الْعَالَمِيْن
Artinya : Dan
sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (QS
Asy-Syu’ara ; 129)
Sekalipun
Al-Qur’an turun ditengah bangsa arab dengan bahasa arab, tetapi isinya tertuju
kepada seluruh umat manusia tidak berbeda antara bangsa arab dengan bangsa non
arab, atau satu umat dengan umat lainya. Al-Qur’an sebagaimana dinyatakan
Rasulullah SAW sendiri dalam beberapa wasiatnya, antara lain diriwayatkan oleh
Ali bin Abi Tholib, “Peganglah oleh kalian kitab Allah, didalamnya memuat
berita tentang orang-orang sebelum kalian dan sesudah kalian serta ketetapan
hukum sesama kalian. Ia adalah pemutus, bukan main-main. Barang siapa mengikuti
petunjuk diluar itu, maka sungguh telah disesatkan oleh Allah. Dan barang siapa
mengajak orang kejalan ini, berarti ia diberi hidayah kejalan yang lurus”.
Al-Qur’an sebagai kitab agama yang merupakan
penutup segala agama dan tujuanya untuk memberi petunjuk kepada segenap manusia
serta memberikan keputusan kepada mereka tentang masalah yang menjadi
perselisihan mereka, maka otomatis Al-Qur’an membuat pokok persoalan-persoalan
theology yang benar.
Untuk
mengetahui pengertian dan lapangan theology, terlebih dahulu kita meninjau
perkataan theology dari segi etimologi (bahasa) atau terminologi (istilah).
Theology terdiri dari perkataan “theos” artinya Tuhan dan “logos” yang artinya
Ilmu. Jadi theology berarti “”Ilmu tentang Tuhan” atau “Ilmu tentang
ketuhanan”.
Banyak
penulis yang memandang bahwa theology bertalian erat dengan agama dan
mendefinisikanya sebagai “uraian yang bersifat pikiran tentang agama”. Akan
tetapi pendapat ini kurang tepat, karena seorang ahli theology dapat menjalankan
penyelidikanya berdasarkan penyelidikan bebas, tanpa menjadi seorang beragama
atau mempunyai pertalian tertentu dengan suatu agama. Karena itu lebih tepat
kalau dikatakan bahwa theology dapat bercorak agama dan dapat juga tidak
bercorak agama.
Untuk
menentukan lapagan dan corak pembahasan, perkataan theology dibubuhi dengan keterangan kualifikasi, seperti “theology filsafat”
“theology masa kini”, “theology Kristen”, “theology katholik”, bahkan dibubuhi
lebih terbatas, seperti “theology wahyu”, “theology polemik”, “theology pikiran”. Ringkasnya Theology adalah
: Ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubunganya dengan manusia, baik
berdasarkan kebenaran wahyu ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni.
B.
Al-Qur’an Tentang Theology
Meskipun
ahli pikir dan filosof-filosof, baik yang dahulu maupun yang sekarang, telah memeras otak untuk mencari asal dan sebab
pertama dari alam semesta ini, dan bagaimana cara memberikan jawaban yang
memuaskan. Masing-masing saling berbeda pendapatnya, akan tetapi Al-Qur’an
telah dapat memberikan jawaban terhadap problem ini dengan cara yang pasti,
dengan disertai alasan-alasan yang bersifat pikiran dan instusionil (wujudaniyyat) yang dapat
masuk akal dan dapat diterima jiwa.
Oleh
karena itu perhatian kaum muslimin pada masa-masa pertama dari sejarah islam
ditujukan kepada pemahaman Al-Qur’an, terutama yang bertalian dengan soal
tersebut. Sesudah mereka mempercayai-Nya dengan segala kesadaran, dengan
melalui ayat-ayat kebesaran Tuhan yang terbentang luas pada alam semesta ini,
langit dengan buminya; menjadikan manusia dengan segala yang ada diatas bumi
dan didalamnya, berupa hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya;
dijadikan dari tiada dan menurut susunan
yang indah serta cermat dan teliti. Semua ini agar menjadi
obyek pengembaraan jiwa dan pikiran, untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tanpa
sekutu.
Haruslah
dicatat bahwa pikiran yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an adalah pikiran manusia
yang masih asli dan sehat, atau dengan perkataan lain pikiran yang fitri, bukan
pikiran yang telah dikacaukan dengan pendapat-pendapat yang simpang siur dan
tidak mencerminkan kebenaran, kecuali kulitnya yang luar sama sekali. Bukan
pula pikiran-pikiran yang telah dipengaruhi oleh kategori logika dan filsafat,
yang permainan alam sering kali hanya permainan alam pikiran belaka. Pikiran
yang diajak oleh Al-Qur’an untuk memikirkan alam semesta ini ialah pikiran yang
fitri dan murni yang terdapat pada diri tiap-tiap manusia.
1.
Fitrah Beragama
Hampir
tiap orang, baik yang bersahaja ataupun yang sudah maju, menurut fitrahnya
percaya tentang adanya Tuhan yang menciptakan alam, meskipun tidak sama dalam
menyebutkan nama-Nya dan dalam menggambarkan sifat-safat yang dimiliki-Nya.
Dengan perkataan lain, beragama, dimana esensinya yang utama dan terpenting
ialah percaya kepada Tuhan dan merasa butuh kepada-Nya, merupakan fitrah tiap-tiap
manusia. Tugas rasul-rasul Tuhan bukan untuk menciptakan perasaan dan fitrah
beragama, sebab fitrah ini sudah ada pada diri manusia, melainkan mereka
memberikan tuntunan dan menjuruskan fitrah tersebut kepada jalan dan tujuan
yang sebenarnya. Karena itu Al-Qur’an mendasarkan da’wahnya pada fitrah
tersebut dan dalam ajakanya selalu menggunakan cara yang bisa menghidupkan,
memperkembangkan, menguatkan dan memperbaiki fitrah tersebut, agar tidak karena
kesyirikan yang telah merusaknya.
Tuhan menjadikan manusia,
memelihara dan melengkapinya dengan alam sekelilingnya. Bumi dan langit, siang
dan malam, air dan udara, matahari dan bulan, hewan dan tumbuh-tumbuhan,
semuanya ini memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada kehidupan mereka. Tuhan
menciptakan segala sesuatu yang diketahui maupun yang tidak diketahui, yang
dapat dicapai panca indra maupun tidak. Tuhan pula yang memberi hidup kepada
semua yang hidup dan yang membuat tata peraturan kehidupan yang tidak bisa
meleset, sedang selain Tuhan, jangankan membuat alam yang seindah ini,
menciptakan seekor lalatpun tidak bisa.
(Al-Haj : 73)
Artinya : Hai manusia,
telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan
seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu
merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari
lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
2.
Pemupukan Fitrah Beragama
Perasaan dan
fitrah beragama ini dipupuk oleh Al-Qur’an dengan disuruhnya melihat alam
sekeliling kita, untuk kemudian bisa menimbulkan kekuatan beragama dan
beriman. Disuruhnya manusia melihat hujan diturunkan, kemudian terbelah bumi,
timbullah biji-bijian menjadi pohon-pohon dan menghasilkan buah-buahan
(Al-Abasa : 25 - 28 )
Lihat pula asal
kejadian manusia, dari air mengalir, memencar dari tulang-tulang rusuk
(At-Tariq : 7). Pikirkan bagaimana unta itu dijadikan, bagaimana langit
ditinggikan, bagaimana gunung-gunung ditegakkan, bagaimana pula bumi
dibentangkan (Al-Ghosyiah : 20). Pandanglah dimalam hari, Maha Besar Tuhan,
dijadikanya bintang-bintang dilangit, lampu, dan selalu memikirkan kejadian
langit dan bumi akan tergerak lidahnya, untuk berkata : “Ya Tuhan kami, tidak
mungkin Engkau membuat ini semua sia-sia”. (Ali-Imron : 191)
Dalam mengeukakan
ke-Esa-an Tuhan, Al-Qur’an mengajak kita melihat hal yang biasa terjadi, yaitu
persengketaan antara orang-orang yang berkuasa dan kehancuran yang diakibatnya.
“Kalau sekiranya dalam langit dan bumi ini ada Tuhan selain Allah, tentulah
rusak kedua-duanya”. (AL-Ambiya’ : 22). Tuhan tidak mengambil anak, tidak pula
ada Tuhan beserta-Nya. Kalau ada, tentulah masing-masing Tuhan akan memonopoli
ciptaan-Nya dan tentu akan saling mengatasi (bersaing) (Al-Mukminun : 91)
Begitulah cara yang dipakai Al-Qur’an untuk menetapkan kekuassan
Tuhan dan Ilmu-Nya. Caara tersebut
sejalan dengan jiwa manusia dan dapat menguatkan fitrah beragama. Tiap-tiap
orang dalam lubuk hatinya ingin memenuhi ajakan tersebut dan tunduk kepadanya,
meskipun kadang-kadang sombong dalam lahirnya. Cara tersebut sesuai untuk orang
biasa, yaitu sebagian besar umat manusia, dan sesuai pula untuk orang-orang
pandai, yang merupakan sebagian kecil umat manusia. Kedua golongan ini bisa
dipengaruhi oleh cara tersebut, meskipun berbeda pengetahuan dan kesanggupanya,
ataupun kehidupan jiwa dan pengalamannya.
3. Tuhan Menurut Al-Qur’an
Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan
dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan
merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya
berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran
rasional, tidak akan benar.
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain
tertera dalam:
QS 21 (Al-Anbiya): 92, “Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah
adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia
menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali
kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka.
Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa
sebenarnya tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak
zaman dahulu hingga sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan
dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama
dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara
agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan
konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat
besar.
QS 5 (Al-Maidah :72),
“Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanmu.
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti
mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah neraka.
QS 112 (Al-Ikhlas: 1-4),
“Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung
pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah.
Kata Allah adalah nama isim jumid atau personal name.Merupakan
suatu pendapat yang keliru, jika nama Allah diterjemahkan dengan kata “Tuhan”,
karena dianggap sebagai isim musytaq.
Tuhan yang haq dalam konsep Al-Quran adalah Allah. Hal ini
dinyatakan antara lain :
Dalam surat Ali Imran ayat 62, yang artinya “Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar,
dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah,
Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Surat Shod 65, “Katakanlah (ya Muhammad) sesungguhnya
aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengetahui”
Surat Muhammad ayat 19 “Maka ketehuilah sesungguhnya tidak Tuhan
(yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu
berusaha dan tempat tinggalmu”.
Dalam Al-Qur’an diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang
diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan
antara lain surat Hud ayat 84 “Dan kepada (penduduk) Mad-yan (kami utus) saudara mereka syu’aib. Ia
berkata “hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain
Dia. Dan janganlah kamu kurrangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku
melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir
terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan (kiamat)”.
Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut
informasi Al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah
sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan
melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada
sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut Al-Quran adalah esa yang
sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat
dibagi menjadi bagian-bagian.
Ke-Esa-an Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau
disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat
syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai
prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya.
C.
Pembuktian Wujud Tuhan
1.
Metode Pembuktian Ilmiah
Tantangan zaman modern terhadap agama terletak dalam masalah metode
pembuktian. Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan pengamatan,
sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera, yang tidak mungkin
dilakukan percobaan (agama didasarkan pada analogi dan induksi). Hal inilah
yang menyebabkan menurut metode ini agama batal, sebab agama tidak mempunyai
landasan ilmiah.
Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab juga tidak
mempunyai landasan ilmiah. Metode baru tidak mengingkari wujud sesuatu,
walaupun belum diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga tidak
menolak analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah
diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan dianggap
sama dengan percobaan empiris.
Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah, tidak hanya
karena percobaan itu dapat diamati secara langsung. Demikian pula suatu analogi
tidak dapat dianggap salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar dan
salah dari keduanya berada pada tingkat yang sama.
Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang pasti, karena
ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan yang dapat diamati dengan hanya
penelitian secara empiris saja. Teori yang disimpulkan dari pengamatan
merupakan hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi. Orang yang mempelajari
ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa kebanyakan pandangan pengetahuan
modern, hanya merupakan interpretasi terhadap pengamatan dan pandangan tersebut
belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu banyak sarjana percaya padanya
hakikat yang tidak dapat diindera secara langsung. Sarjana mana pun tidak mampu
melangkah lebih jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: “Gaya” (force),
“Energy”, “alam” (nature), dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang
sarjana pun yang mengenal apa itu: “Gaya, energi, alam, dan hukum alam”.
Sarjana tersebut tidak mampu memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut
secara sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu memberikan
penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya percaya sesuai dengan bidangnya pada
sebab-sebab yang tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang
ghaib” dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab,
baik agama maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada keimanan pada
yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama yang sebenarnya adalah ruang lingkup
“penentuan hakikat” terakhir dan asli, sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan
terbatas pada pembahasan ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu pengtahuan memasuki
bidang penentuan hakikat, yang sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu
pengetahuan telah menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab itu harus
ditempuh bidang lain.
Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang menafsirkan
pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat yang diamati. Mereka tidak dapat
mengatakan: Kenyataan yang diamati adalah satu-satunya “ilmu” dan semua
hal yang berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak dapat diamati.
Sebenarnya apa yang disebut dengan iman kepada yang ghaib oleh orang mukmin,
adalah iman kepada hakikat yang tidak dapat diamati. Hal ini tidak berarti satu
kepercayaan buta, tetapi justru merupakan interpretasi yang terbaik terhadap
kenyataan yang tidak dapat diamati oleh para sarjana.
2.
Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya
yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan
yang telah menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada batasnya. Setiap manusia
normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya pula bahwa alam ini “ada”.
Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan
ilmiah dan kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus
percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan:
<<Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya Khaliq>> adalah
suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang
berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya,
pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan percaya bahwa alam
semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa pencipta?
3.
Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan
dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi setelah
ditemukan “hukum kedua termodinamika” (Second law of Thermodynamics),
pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.
Hukum tersebut yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau
teori pembatasan perubahan energi panas membuktikan bahwa adanya alam tidak
mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas selalu
berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya
tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak
panas menjadi panas. Perubahan energi panas dikendalikan oleh keseimbangan
antara “energi yang ada” dengan “energi yang tidak ada”.
Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di
alam terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal itu membuktikan
secara pasti bahwa alam bukan bersifat azali. Seandainya alam ini azali, maka
sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan
tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang
menciptakan alam yaitu Tuhan.
4.
Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Benda alam yang paling dekat dengan bumi adalah bulan, yang
jaraknya dari bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi dan
menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh sembilan hari sekali. Demikian
pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar pada porosnya
dengan kecepatan seribu mil per jam dan menempuh garis edarnya sepanjang
190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di samping bumi terdapat gugus sembilan
planet tata surya, termasuk bumi, yang mengelilingi matahari dengan kecepatan
luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia
beredar bersama-sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis
edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan
sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan
atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis
edarnya. Galaxy dimana terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan
menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia dengan memperhatikan sistem yang luar biasa dan
organisasi yang teliti, akan berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi
dengan sendirinya, bahkan akan menyimpulkan bahwa di balik semuanya itu ada
kekuatan maha besar yang membuat dan mengendalikan sistem yang luar biasa
tersebut, kekuatan maha besar tersebut adalah Tuhan.
Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan
keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “dalil ikhtira”. Di
samping itu Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “dalil inayah”. Dalil
‘inayah adalah metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan
manfaat alam bagi kehidupan manusia.
Kesimpulan
Teologi sebagai
lmu yang membahas tentang ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap
Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal
tersebut. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha
keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam
metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan
kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan. Didukung dengan pembuktian wujud
Tuhan melalui berbagai pendekatan, baik penelitian terhadap alam semesta,
pendekatan fisika serta pendekatan astronomi, tidak ada lagi kata ragu bahwa
Tuhan yang wajib kita imani adalah Tuhan Pencipta Alam, Allah SWT.
Melalui berbagai
penjelasan dalam makalah ini, diharapkan dapat sedikit membantu dalam memupuk
keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, serta mampu membuktikan dengan
akal sebagai daya berpikir dalam diri manusia bahwa dalil adanya Tuhan adalah
adanya alam, dan wahyu sebagai petunjuk kearah keimanan yang tinggi adalah
sumber utamanya. Sehingga kualitas keimanan yang terbentuk melalui pembuktian,
tidak hanya taqlid tanpa mengetahui dalilnya secara mendetail.
DAFTAR PUSTAKA
Harun nasution, Teologi Islam : aliran-aliran, sejarah analisa
dan perbandingan. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2010.
Syarif Romas Chumaidi, Wacana Teologi Islam Kontemporer,
Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 2000.
M. Yusuf Musa, Al-Qur’an
dan Filsafat, Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 1991.
A. Hanafi, M.A. Pengantar Theology Islam, Jakarta : PT. Al
Husna Zikra, 2001
Al-Qur’an Dan Terjemah, TB. Mubarokatan Toyyibah, Kudus, 2008.
Lengkap sekali pembahasannya gan, salam sukses
BalasHapusCuma itu kok.. salam sukses juga..
Hapus