jam digital

Jumat, 07 Juni 2013

Al-Quran dan Theologi

Al-Qur'an Dan Theologi
       Sejak permulaan perkembangan sains dalam islam, Al-Qur’an merupakan objek pembahasan sains dikalangan muslim, yang melahirkan konstruksi ilmu kalam. Kelahiran ilmu ini berpangkal pada pemikiran (logika) deduktif dari teks Al-Qur’an yang berada ditengah-tengah perbedaan tajam antara pemikiran yang meletakkan Al-Qur’an sebagai makhluk dan pemikiran yang diletakkan pada logika bahwa Al-Qur’an bukan makhluk. Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataanya theology lahir dari kenyataan empiric yakni peristiwa pembunuhan politik yang membentuk situasi pada saat itu dikaitkan dengan teks Al-Qur’an. Proses pembentukan theology dilakukan melalui komentar-komentar aktual atas teks atau tafsir   yang bercorak deduktif normatif menurut aliran politik yang ada.
A.    Pengenalan Al-Qur’an Dan Theology
            Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukil secara mutawatir kepada kita, yang isinya memuat petunjuk bagi kebahagiaan kepada orang yang percaya kepada-Nya, berupa aqidah, akhlaq dan syari’at. Allah memberi wahyu pada rasul-Nya supaya mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Allah. Allah berfirman dalam surat Asy-Syu’ara : 192
وَاِنَّهُ لَتَنْزِيْلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْن
Artinya : Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (QS Asy-Syu’ara ; 129)
            Sekalipun Al-Qur’an turun ditengah bangsa arab dengan bahasa arab, tetapi isinya tertuju kepada seluruh umat manusia tidak berbeda antara bangsa arab dengan bangsa non arab, atau satu umat dengan umat lainya. Al-Qur’an sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW sendiri dalam beberapa wasiatnya, antara lain diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib, “Peganglah oleh kalian kitab Allah, didalamnya memuat berita tentang orang-orang sebelum kalian dan sesudah kalian serta ketetapan hukum sesama kalian. Ia adalah pemutus, bukan main-main. Barang siapa mengikuti petunjuk diluar itu, maka sungguh telah disesatkan oleh Allah. Dan barang siapa mengajak orang kejalan ini, berarti ia diberi hidayah kejalan yang lurus”.
Al-Qur’an sebagai kitab agama yang merupakan penutup segala agama dan tujuanya untuk memberi petunjuk kepada segenap manusia serta memberikan keputusan kepada mereka tentang masalah yang menjadi perselisihan mereka, maka otomatis Al-Qur’an membuat pokok persoalan-persoalan theology yang benar.
            Untuk mengetahui pengertian dan lapangan theology, terlebih dahulu kita meninjau perkataan theology dari segi etimologi (bahasa) atau terminologi (istilah). Theology terdiri dari perkataan “theos” artinya Tuhan dan “logos” yang artinya Ilmu. Jadi theology berarti “”Ilmu tentang Tuhan” atau “Ilmu tentang ketuhanan”.
            Banyak penulis yang memandang bahwa theology bertalian erat dengan agama dan mendefinisikanya sebagai “uraian yang bersifat pikiran tentang agama”. Akan tetapi pendapat ini kurang tepat, karena seorang ahli theology dapat menjalankan penyelidikanya berdasarkan penyelidikan bebas, tanpa menjadi seorang beragama atau mempunyai pertalian tertentu dengan suatu agama. Karena itu lebih tepat kalau dikatakan bahwa theology dapat bercorak agama dan dapat juga tidak bercorak agama.
            Untuk menentukan lapagan dan corak pembahasan, perkataan theology dibubuhi dengan keterangan kualifikasi, seperti “theology filsafat” “theology masa kini”, “theology Kristen”, “theology katholik”, bahkan dibubuhi lebih terbatas, seperti “theology wahyu”, “theology polemik”, “theology pikiran”. Ringkasnya Theology adalah : Ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubunganya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran wahyu ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni.
B.     Al-Qur’an Tentang Theology
            Meskipun ahli pikir dan filosof-filosof, baik yang dahulu maupun yang sekarang, telah memeras otak untuk mencari asal dan sebab pertama dari alam semesta ini, dan bagaimana cara memberikan jawaban yang memuaskan. Masing-masing saling berbeda pendapatnya, akan tetapi Al-Qur’an telah dapat memberikan jawaban terhadap problem ini dengan cara yang pasti, dengan disertai alasan-alasan yang bersifat pikiran dan instusionil (wujudaniyyat) yang dapat masuk akal dan dapat diterima jiwa.
            Oleh karena itu perhatian kaum muslimin pada masa-masa pertama dari sejarah islam ditujukan kepada pemahaman Al-Qur’an, terutama yang bertalian dengan soal tersebut. Sesudah mereka mempercayai-Nya dengan segala kesadaran, dengan melalui ayat-ayat kebesaran Tuhan yang terbentang luas pada alam semesta ini, langit dengan buminya; menjadikan manusia dengan segala yang ada diatas bumi dan didalamnya, berupa hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya; dijadikan dari tiada dan menurut  susunan yang indah serta cermat dan teliti. Semua ini agar menjadi obyek pengembaraan jiwa dan pikiran, untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tanpa sekutu.
            Haruslah dicatat bahwa pikiran yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an adalah pikiran manusia yang masih asli dan sehat, atau dengan perkataan lain pikiran yang fitri, bukan pikiran yang telah dikacaukan dengan pendapat-pendapat yang simpang siur dan tidak mencerminkan kebenaran, kecuali kulitnya yang luar sama sekali. Bukan pula pikiran-pikiran yang telah dipengaruhi oleh kategori logika dan filsafat, yang permainan alam sering kali hanya permainan alam pikiran belaka. Pikiran yang diajak oleh Al-Qur’an untuk memikirkan alam semesta ini ialah pikiran yang fitri dan murni yang terdapat pada diri tiap-tiap manusia.
1.      Fitrah Beragama
            Hampir tiap orang, baik yang bersahaja ataupun yang sudah maju, menurut fitrahnya percaya tentang adanya Tuhan yang menciptakan alam, meskipun tidak sama dalam menyebutkan nama-Nya dan dalam menggambarkan sifat-safat yang dimiliki-Nya. Dengan perkataan lain, beragama, dimana esensinya yang utama dan terpenting ialah percaya kepada Tuhan dan merasa butuh kepada-Nya, merupakan fitrah tiap-tiap manusia. Tugas rasul-rasul Tuhan bukan untuk menciptakan perasaan dan fitrah beragama, sebab fitrah ini sudah ada pada diri manusia, melainkan mereka memberikan tuntunan dan menjuruskan fitrah tersebut kepada jalan dan tujuan yang sebenarnya. Karena itu Al-Qur’an mendasarkan da’wahnya pada fitrah tersebut dan dalam ajakanya selalu menggunakan cara yang bisa menghidupkan, memperkembangkan, menguatkan dan memperbaiki fitrah tersebut, agar tidak karena kesyirikan yang telah merusaknya.
            Tuhan menjadikan manusia, memelihara dan melengkapinya dengan alam sekelilingnya. Bumi dan langit, siang dan malam, air dan udara, matahari dan bulan, hewan dan tumbuh-tumbuhan, semuanya ini memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada kehidupan mereka. Tuhan menciptakan segala sesuatu yang diketahui maupun yang tidak diketahui, yang dapat dicapai panca indra maupun tidak. Tuhan pula yang memberi hidup kepada semua yang hidup dan yang membuat tata peraturan kehidupan yang tidak bisa meleset, sedang selain Tuhan, jangankan membuat alam yang seindah ini, menciptakan seekor lalatpun tidak bisa.  (Al-Haj : 73)
Artinya : Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
2.      Pemupukan Fitrah Beragama
            Perasaan dan fitrah beragama ini dipupuk oleh Al-Qur’an dengan disuruhnya melihat alam sekeliling kita, untuk kemudian bisa menimbulkan kekuatan beragama dan beriman. Disuruhnya manusia melihat hujan diturunkan, kemudian terbelah bumi, timbullah biji-bijian menjadi pohon-pohon dan menghasilkan buah-buahan (Al-Abasa : 25 - 28 )
            Lihat pula asal kejadian manusia, dari air mengalir, memencar dari tulang-tulang rusuk (At-Tariq : 7). Pikirkan bagaimana unta itu dijadikan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung-gunung ditegakkan, bagaimana pula bumi dibentangkan (Al-Ghosyiah : 20). Pandanglah dimalam hari, Maha Besar Tuhan, dijadikanya bintang-bintang dilangit, lampu, dan selalu memikirkan kejadian langit dan bumi akan tergerak lidahnya, untuk berkata : “Ya Tuhan kami, tidak mungkin Engkau membuat ini semua sia-sia”. (Ali-Imron : 191)
            Dalam mengeukakan ke-Esa-an Tuhan, Al-Qur’an mengajak kita melihat hal yang biasa terjadi, yaitu persengketaan antara orang-orang yang berkuasa dan kehancuran yang diakibatnya. “Kalau sekiranya dalam langit dan bumi ini ada Tuhan selain Allah, tentulah rusak kedua-duanya”. (AL-Ambiya’ : 22). Tuhan tidak mengambil anak, tidak pula ada Tuhan beserta-Nya. Kalau ada, tentulah masing-masing Tuhan akan memonopoli ciptaan-Nya dan tentu akan saling mengatasi (bersaing) (Al-Mukminun : 91)
Begitulah cara yang dipakai Al-Qur’an untuk menetapkan kekuassan Tuhan dan Ilmu-Nya. Caara  tersebut sejalan dengan jiwa manusia dan dapat menguatkan fitrah beragama. Tiap-tiap orang dalam lubuk hatinya ingin memenuhi ajakan tersebut dan tunduk kepadanya, meskipun kadang-kadang sombong dalam lahirnya. Cara tersebut sesuai untuk orang biasa, yaitu sebagian besar umat manusia, dan sesuai pula untuk orang-orang pandai, yang merupakan sebagian kecil umat manusia. Kedua golongan ini bisa dipengaruhi oleh cara tersebut, meskipun berbeda pengetahuan dan kesanggupanya, ataupun kehidupan jiwa dan pengalamannya.
3.      Tuhan Menurut Al-Qur’an
Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam:
QS 21 (Al-Anbiya): 92, “Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka.
Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan konsep tentang  ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.
QS 5 (Al-Maidah :72), “Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah neraka.
QS 112 (Al-Ikhlas: 1-4), “Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Kata Allah adalah nama isim jumid atau personal name.Merupakan suatu pendapat yang keliru, jika nama Allah diterjemahkan dengan kata “Tuhan”, karena dianggap sebagai isim musytaq.
Tuhan yang haq dalam konsep Al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain :
Dalam surat Ali Imran ayat 62, yang artinya “Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Surat Shod 65, “Katakanlah (ya Muhammad) sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengetahui”
Surat Muhammad ayat 19 “Maka ketehuilah sesungguhnya tidak Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”.
Dalam Al-Qur’an diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 “Dan kepada (penduduk)  Mad-yan (kami utus) saudara mereka syu’aib. Ia berkata “hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurrangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan (kiamat)”.
Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi Al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut Al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian.
Ke-Esa-an Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya. 
C.    Pembuktian Wujud Tuhan
1.      Metode Pembuktian Ilmiah
Tantangan zaman modern terhadap agama terletak dalam masalah metode pembuktian. Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan pengamatan, sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera, yang tidak mungkin dilakukan percobaan (agama didasarkan pada analogi dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan menurut metode ini agama batal, sebab agama tidak mempunyai landasan ilmiah.
Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab juga tidak mempunyai landasan ilmiah. Metode baru tidak mengingkari wujud sesuatu, walaupun belum diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga tidak menolak analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan dianggap sama dengan percobaan empiris.
Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah, tidak hanya karena percobaan itu dapat diamati secara langsung. Demikian pula suatu analogi tidak dapat dianggap salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar dan salah dari keduanya berada pada tingkat yang sama.
Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang pasti, karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan yang dapat diamati dengan hanya penelitian secara empiris saja. Teori yang disimpulkan dari pengamatan merupakan hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi. Orang yang mempelajari ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa kebanyakan pandangan pengetahuan modern, hanya merupakan interpretasi terhadap pengamatan dan pandangan tersebut belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu banyak sarjana percaya padanya hakikat yang tidak dapat diindera secara langsung. Sarjana mana pun tidak mampu melangkah lebih jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: “Gaya” (force), “Energy”, “alam” (nature), dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang sarjana pun yang mengenal apa itu: “Gaya, energi, alam, dan hukum alam”. Sarjana tersebut tidak mampu memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut secara sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu memberikan penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya percaya sesuai dengan bidangnya pada sebab-sebab yang tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang ghaib” dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab, baik agama maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada keimanan pada yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama yang sebenarnya adalah ruang lingkup “penentuan hakikat” terakhir dan asli, sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan terbatas pada pembahasan ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu pengtahuan memasuki bidang penentuan hakikat, yang sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu pengetahuan telah menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab itu harus ditempuh bidang lain.
Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang menafsirkan pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat yang diamati. Mereka tidak dapat mengatakan:  Kenyataan yang diamati adalah satu-satunya “ilmu” dan semua hal yang berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak dapat diamati. Sebenarnya apa yang disebut dengan iman kepada yang ghaib oleh orang mukmin, adalah iman kepada hakikat yang tidak dapat diamati. Hal ini tidak berarti satu kepercayaan buta, tetapi justru merupakan interpretasi yang terbaik terhadap kenyataan yang tidak dapat diamati oleh para sarjana.
2.      Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan: <<Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya Khaliq>> adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa pencipta?
3.      Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi setelah ditemukan “hukum kedua termodinamika”  (Second law of Thermodynamics), pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.
Hukum tersebut yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energi panas membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas menjadi panas. Perubahan energi panas dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan “energi yang tidak ada”.
Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal itu membuktikan secara pasti bahwa alam bukan bersifat azali. Seandainya alam ini azali, maka sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.
4.      Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Benda alam yang paling dekat dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya dari bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi dan menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh sembilan hari sekali. Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam dan menempuh garis edarnya sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di samping bumi terdapat gugus sembilan planet tata surya, termasuk bumi, yang mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama-sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edarnya. Galaxy dimana terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia dengan memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi yang teliti, akan berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan sendirinya, bahkan akan menyimpulkan bahwa di balik semuanya itu ada kekuatan maha besar yang membuat dan mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut, kekuatan maha besar tersebut adalah Tuhan.
Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “dalil ikhtira”. Di samping itu Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “dalil inayah”. Dalil ‘inayah adalah metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia.

Kesimpulan
            Teologi sebagai lmu yang membahas tentang ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan. Didukung dengan pembuktian wujud Tuhan melalui berbagai pendekatan, baik penelitian terhadap alam semesta, pendekatan fisika serta pendekatan astronomi, tidak ada lagi kata ragu bahwa Tuhan yang wajib kita imani adalah Tuhan Pencipta Alam, Allah SWT.
            Melalui berbagai penjelasan dalam makalah ini, diharapkan dapat sedikit membantu dalam memupuk keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, serta mampu membuktikan dengan akal sebagai daya berpikir dalam diri manusia bahwa dalil adanya Tuhan adalah adanya alam, dan wahyu sebagai petunjuk kearah keimanan yang tinggi adalah sumber utamanya. Sehingga kualitas keimanan yang terbentuk melalui pembuktian, tidak hanya taqlid tanpa mengetahui dalilnya secara mendetail.

DAFTAR PUSTAKA
Harun nasution, Teologi Islam : aliran-aliran, sejarah analisa dan perbandingan. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2010.
Syarif Romas Chumaidi, Wacana Teologi Islam Kontemporer, Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 2000.
M. Yusuf  Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 1991.
A. Hanafi, M.A. Pengantar Theology Islam, Jakarta : PT. Al Husna  Zikra, 2001

Al-Qur’an Dan Terjemah, TB. Mubarokatan Toyyibah, Kudus, 2008.

2 komentar :

Memberi komentar tentang semua yang ada di blog kami adalah wujud kebesaran rasa persahabatan anda.. Thank's