Seringkali sebagai seorang muslim kita dihadapkan pada
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penjelasan secara nalar tentang
realita kejadian-kejadian gaib pada zaman nabi dan rasul atau yang lebih
familiar dengan sebutan mukjizat semisal kejadian isra mi’raj . Kejadian
tersebut pada masa lalu dienggap sangat mustahil dan mengada-ada kini pada
zaman modern seiring dengan munculnya teori relativitas yang dicetuskan oleh
Newtondan Einstein. Kebenaran tentang peristiwa tersebut perlahan-lahan mulai
terkuak dan dapat dimengerti oleh logika akal manusia yang sebelum-sebelumnya
menolak kebenaran tentang kejadian ini.
Explorasi dan penelitian pada zaman sekarang telah
menyentuh luar angkasa. Dipelopori oleh keberhasilan NASA mengirimkan Neil
Amstrong ke bulan setelah itu mulai digalakkan pengembangan teknologi untuk
menjamah ruang angkasa di berbagai negara. Namun pada masa itu mereka belum
mengetahui sebuah misteri baru telah menunggu di kawasan nan luas di luar
angkasa. Baru pada tahun 1967 muncullah suatu istilah yang popular dengan nama
Lubang Hitam. Lubang Hitam ini sangat berbahaya karena mampu menghancurkan apa
saja yang berada pada radius gravitasinya bahkan cahaya sekalipun. Namun ketika
para ahli baru mengetahui tentang lubang hitam pada abad ke-20 ini, Allah telah
terlebih dahulu memperingatkan tentang keberaedaan lubang hitam tersebut di
dalam Al Qur’an sehingga pada akhirnya banyak ilmuwan yang dalam penelitiannya
berpedoman pada Al Qur’an.
Segala peristiwa yang terjadi pada
masa kini adalah sebuah kehendak dari Allah Swt. yang sebagian dari kata
kuncinya telah tertulis dalam Al Qur’an yang telah diturunkan pada masa nabi
Muhammad SAW. Bisa dikatakan Al Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang pernah
diturunkan Allah kepada nabi dan rasul-Nya dan merupakan karunia yang sangat
luar biasa bagi umat manusia jika mereka mau berfikir.
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami
Rasulullah pada malam 27 Rajab tahun ke 12 kenabian. Isra’ dan Mi’raj merupakan
dua kejadian yang berkesinambungan dan kesatuan yang tidak terpisahkan. Isra’
berarti perjalanan dimalam hari sedang mi’raj adalah tangga alat naik.
Peristiwa Isra’ Mi’raj bermula ketika Malaikat Jibril AS mendapat perintah dari
Allah untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah SWT. Jibril
membangunkan Rasul dan membimbing-nya keluar Masjidil Haram ternyata diluar
masjid telah menunggu kendaraan bernama Buraq sebuah kendaraan yang
kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rambat cahaya dan setiap langkahnya
sejauh mata memandang.
Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq6 bersama
Jibril. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat
penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat
Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi
Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi
terdahulu. Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba
Rasul melihat tangga yang
sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian
Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul
Muntaha.
“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya
yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat
Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula
melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.” (QS.
An-Najm : 13 – 18).
Selanjutnya Rasulullah melanjutkan
perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang
artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan
bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca
lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang
sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman
Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku
telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu
seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik
yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat
wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan
jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.“Kembalilah kepada
umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”. Kemudian Rasul turun
ke Sidratul Muntaha.
Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan
penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya
baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak
seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya.
Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa
kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan
tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang
menyukai orang-orang yang bersyukur”.Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.
Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku
perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih
zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah
SWT. Tidak ada sebuah
tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan
sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa
yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak
terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya
dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum
untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan
neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya
selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang
subuh.
Tafsir Surat Isro’ Mi’roj
Surat Al-Isra’
ayat ke-1 adalah sebagai berikut:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكـْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ
مِنْ آَيَاتِنَا
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
1. Subhana biasanya diartikan sebagai
Maha Suci tetapi banyak pihak yang lebih mengungkapkan bahwa arti yang lebih
cocok adalah Maha Penggerak atau Maha Dinamis.Subhana bisa juga
berasal dari kata ‘sabaha‘ artinya berenang. Mashdar lainnya adalahTasbih, yang berarti gerak
yang dinamis. Hakekat dari seluruh materi di alam semesta ini adalah bergerak,
ber-rotasi dan ber-revolusi. Salah tiga dari materi alam semesta adalah
Matahari, Bumi dan Rembulan. Rembulan atau Bulan ber-rotasi dan ber-revolusi
kepada Bumi. Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Matahari. Matahari ber-rotasi
dan ber-revolusi kepada pusat Bimasakti. Jadi peristiwa Isra’ wal Mi’raj adalah
fenomena pergerakan dan sangat dinamis, bukan sekedar aktifitas statis.
2. Asra artinya memperjalankan. Kata ini bentuk transitif (muta’addiy)
dari kata saraa yang artinya berjalan. Di sini jelas bahwa Alloh Yang Maha
Dinamis yang menentukan gerak dan diamnya, atau berjalan dan berhentinya
hamba-Nya yakni Rasulullah SAW. Jadi peristiwa Isr’a wal Mi’raj merupakan
kehendak aktif Alloh SWT. Jika dihitung secara jarak sesungguhnya maka jarak
tempuh Isra’ adalah : Mekkah – Palestina, sekitar 1.200 km. Selanjutnya,
perjalanan Mi’raj seperti dijelaskan dalam surat An-Najm yang terbagi dalam dua
tahap:
Tahap 1: Gelombang
ke Partikel
Ayat 1-11
surat An-Najm, menjelaskan perihal transfer dimensi dari Jibril kepada
Rasululloh SAW yakni transfer dimensi cahaya kepada dimensi suara.
Tahap 2: Partikel ke
Geombang
Selanjutnya ayat ke 12 – 17 surat An-Najm, adalah menjabarkan praktikum
Rasululloh SAW untuk melakukan transfer balik dari dimensi suara atau partikel
menuju ke dimensi cahaya atau ‘gelombang elektromagnetik’ dan perjalanan saat
itu tidak lagi mengenal hukum fisika. Dimensi waktu telah terlampuai. Jangkauan Rasululloh SAW
mampu mencakup semua dimensi di bawah layer malaikat. Jika Mi’raj dijalankan
oleh nabi Muhammad SAW dalam hakekatnya sebagai manusia biasa maka jazad beliau
akan terbakar dan hancur ketika keluar dari bumi. Padahal diameter Bumi sekitar
12.700 km dan lebar tata surya yang manusia ketahui adalah sekitar 9 milyar km.
Oleh Rasulullah jarak dan kondisi tersebut berhasil beliau lewati hanya dalam
waktu satu malam atas izin Allah SWT. Subhanallah.
3. ‘Abdihi artinya hamba-Nya. Hamba adalah lemah, hamba adalah
tidak berdaya. Di sini jelas, bahwa isra’ Mi’raj itu bukan kemauan Rasulullah
SAW, karena beliau sebagai hamba yang hanya bergantung atas kehendak Alloh SWT
dalam melakukan perjalannya. Jadi dalam Isr’a Mi’raj, Rasululloh SAW tidak
berjalan sendiri tetapi dibantu Alloh dalam melakukan perjalanan itu.
4. Lailan berarti malam hari. Malam adalah simbol kebalikan
dari siang. Dua istilah yang sangat erat dengan konsep waktu. Alasan kenapa
isra mi’raj dilakukan pada malam hari adalah karena malam memiliki keheningan,
malam menyibakkan kegelapan yang merupakan arah dari pandangan mata yang tidak
pernah akan berujung. Dan perjalanan Isra’ wal Mi’raj adalah perjalanan Rasul
SAW yang tidak mampu dijejaki ujung finalnya yaitu alam semesta nan luas.
5. Masjidil
Haram-Masjidil Aqsha (dua
starting point yang diberkahi). Dua lokasi yang dipilih Allah dengan titik
koordinat yang terpisah antara batas utara pergerakan tahunan Matahari. Dua
lokasi sebagai kiblat pertama dan terakhir. Dan inilah tanda-tanda kekuasaan
dan kebesaran-Nya. Kalau kita mau berfikir.
Mengenai pemahaman tentang Isra’ Mi’raj banyak kaum
muslim yang masih memiliki perbedaan pandangan secara mendasar, yang terbagi
dalam:
- Pemahaman
dgn beranggapan peristiwa isra’ Mi’raj hanyalah sekedar perjalanan ruh,
spiritual atau metaphor journey Nabi Muhammad SAW tidak dengan. Pemahaman
ini berpegang kepada surah Al Quran :
QS. 17
Al-Isra’ : 60 “…Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu adalah
sebagai ujian bagi manusia…”
- Sebaliknya
ada yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke Bait’l-Maqdis itu dengan
jasad atau physical journey. Sedang mi’raj ke langit adalah dengan ruh
atau metaphor journey.
- Pemahaman
lain menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan dengan jasad (fisik)
dan dapat dijelaskan dalam ilmu yang dipahami manusia karena merupakan
peristiwa nyata.
Pemahaman secara fisik (physical journey).
Isra Mi`raj sebagai sebuah peristiwa metafisika (gaib),
barangkali bukan sesuatu yang istimewa. Kebenarannya bukanlah sesuatu yang
luarbiasa. Kebenaran metafisika adalah kebenaran naqliyah (: dogmatis) yang
tidak harus dibuktikan secara akal, namun lebih bersifat imani. Valid tidaknya
kebenaran peristiwa metafisika—secara akal, bukanlah soal selagi ia diimani.
Didalam pemahan secara fisika banyak orang mempertanyakan
ke-shahih-an Isra` Mi`raj; “ apakah mungkin manusia melakukan perjalanan
sejauh itu hanya dalam waktu kurang dari semalam?” . Kaum kafirpun telah
menantang Rasulullah seperti diberitakan dalam Al Quran dalam surat
Al-Israa: 93.
“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu
naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu
hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha
Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
Dan
didalam Hadits. “Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi
SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah
menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan
saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya….” (HR.
Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hubungan antara peristiwa perjalanan isra’ mi’raj
dengan teori relativitas.
Diantara keduanya terdapat faktor persamaan dan perbedaan
didalam proses kejadian, antara lain:
•
Keduanya membahas perihal perjalanan atau journey dari
Bumi ke luar angkasa lalu kembali ke Bumi.
•
Keduanya membahas penggunaan faktor “Speed” atau
“kecepatan” tinggi didalam pemberitaannya.
•
Konsep mengenai perpisahan antara dua manusia (atau lebih)
digunakan sebagai bahan pokok atau object pembahasan didalam kedua
cerita.
Dalam Isra Miraj, Rasulullah
meninggalkan kaumnya di bumi untuk bepergian ke ke Majidil Aqsha lalu ke
Langit ketujuh, dalam kasus teori relativitas menceritakan tentang dua saudara
kembar A dan B, dimana saudara kembar B bepergian keluar angkasa. Sampai disini dari hal hal tersebut diatas, kita
sudah dapat mengambil kesimpulan secara gamblang, bahwa peristiwa Isra
Miraj adalah benar. Bagaimana mungkin seorang manusia yang
ummi 14 Abad yang silam dapat membuat sebuah cerita atau teori yang dapat
dibuktikan didalam abad ke 20 dengan sedemikian detailnya. Dengan kata lain
tidak mungkin Rasulullah SAW mencontoh teori Albert Einstein yang lahir
sesudahnya .
Pembuktian isra mi’raj dalam teori relativitas.
Penjelasan tentang isra mi’raj sesuai dengan teori
relativitas yang ada dapat jelaskan sebagai berikut. Ketika nabi Muhammad SAW
melaksanakan isra mi’raj dengan berkendaraan buraq, sejenis makhluk yang khusus
diturunkan oleh Allah SWT yang disinyalir berupa kuda bersayap dengan kepala
menyerupai manusia yang sengaja diturunkan oleh Allah SWT khusus untuk
mengantarkan nabi Muhammad SAW melaksanakan isra mi’raj. Secara bahasa arti
nama buraq itu sendiri adalah kilat atau cahaya sehingga seperti yang kita
ketahui bersama bahwa kecepatan kilat atau cahaya(c) itu sendiri adalah sebesar
3×108 m/s. Ketika kita masukkan dalam rumus relativitas Einstein
maka ketika waktu terjadinya isra mi’raj itu jika dihitung dalam waktu bumi
adalah 8 jam sebagai ∆t maka,
= 0
Dari hasil penghitungan di atas maka sangat logis apabila
isra mi’raj dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dalam waktu kurang dari satu
malam. Perihal dengan ketahanan fisik beliau dalam melakukan perjalanan jauh
tersebut juga dapat dijelaskan secara ilmu biologi. Menurut riwayat, sebelum
Nabi berangkat untuk penerbangan jarak jauhnya dalam peristiwa Mi’raj itu,
lebih dahulu Nabi dibedah dadanya untuk dibersihkan jantungnya oleh malaikat
Jibril, maksud dibersihkan itu sendiri, secara ilmiah sebagai suatu persiapan
kondisi jasmani (fisik)nya agar cukup dan mampu dalam menempuh penerbangan
jarak jauh.
Sepasang dokter Amerika yang terdiri
dari suami istri, Dr. William Fisher & Dr. Anna Fisher mengatakan bahwa
perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan penyelidikannya
sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot dan kondisi-kondisi
tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang angkasa, ini membuktikan
kebenaran dari peristiwa ‘Pembedahan Dada’ Nabi Muhammad Saw oleh dokter-dokter
ahli langit yang ditunjuk oleh Allah Swt, yaitu para malaikat yang diketuai
oleh Jibril. Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung Nabi sebelum
Mi’raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi manusia umumnya untuk
mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang bedah dan anatomi serta ilmu
kedokteran antariksa. Dan ternyata
kemudian bedah jantung ‘pencangkokan jantung’ dan ilmu kedokteran antariksa
oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Memberi komentar tentang semua yang ada di blog kami adalah wujud kebesaran rasa persahabatan anda.. Thank's